Rasional adalah suatu sikap yang dilakukan berdasarkan pikiran dan pertimbangan yang logis dan cocok dengan akal sehat manusia.
Tetapi Islam merasionalkan manusia dalam hal ghaib, yang sebahagian orang berpendapat bahwa hal-hal yang ghaib itu cukup diimani saja tanpa harus dipikirkan. Takut mengada-ngada dan cenderung sesat. Iman itu buah dari berpikir. Kesalahan yang terjadi diimani dahulu baru dipikirkan. Maka akhirnya jadi ragu dan dungu.
Padahal sesuatu yang tidak diketahui itu awalnya ghaib. Lalu dipelajari sesuatu yang dianggap ghaib maka tadinya ghaib menjadi tidak ghaib lagi. Apalagi kalau sudah masuk ranah akidah, memang para ulama bidang aqidah sudah membatasi apa-apa saja yang perlu dipikirkan dan dikaji dan apa saja yang gak boleh dipikirkan dan dikaji. Itu boleh-boleh saja. Bisa saja alasan itu diterima agar tidak ada kesimpulan "sok tahu".
Yang ingin penulis sampaikan pada hal ini adalah Islam itu agama rasional dari segi hikmah dan pelajaran-pelajaran di dalamnya. Banyak ayat yang menyinggung hal ini. "Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" "apakah kamu tidak memikirkannya" semisalnya.
Jadi, selama ada keterangan di dalam kitabNya maka itu bisa dirasionalkan. Karena kitabNya itu dibaca oleh makhlukNya. Yang Tuhan sendiri tahu betul standard rasional makhluknya (dalam hal ini manusia).
Seperti misalnya kasus Nabi Ibrahim as. yang menghancurkan patung-patung disembah ummatnya. Sengaja beliau tidak menghancurkan satu patung yang besar dan diselipkan kapak ditangan sang patung. Yang tujuannya untuk menguji nalar ummatnya bahwa bagaimana bisa patung-patung itu hancur ditangan patung yang lain. Akhirnya nalar ummatnya jalan namun tetap saja ada yang menolak dalil itu sebagai bentuk menutupi (kafir) ketumpulan nalar mereka bahwa yang mereka sembah itu tidak memberi manfaat dan mudharat sedikitpun kecuali Allah SWT.
Selama ini manusia itu tidak mengetahui tentang alam semesta, lalu Tuhan terangkan di dalam kitabNya mengenai hal itu. Ada Bumi, langit, Siang, Malam, Lautan, Hujan, Tsunami dan sebagainya. Yang kemudian tercurahkan kepada berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Kasus lainnya soal kiamat, surga dan neraka. Ketiganya belum terjadi. Namun sifat-sifatnya sudah bisa dirasakan di duni ini. Soal kiamat itu adalah kepastian. Dan berhubungan manusianya dan masanya. Bila manusianya tidak ada lagi yang beriman, dalam suatu riwayat bahwa bila ada orang yang masih menyebut kalimat tauhid di dunia ini maka "tertundalah" kiamat (hari kehancuran alam) itu. Dan Allah sengaja merahasiakan kapan tanggal bulan dan tahunnya terjadi sebagai bentuk ujian BS (Benar Salah Amalnya). atau dengan kata lain, memberi peluang bagi setiap manusia untuk menambah amal shaleh atau amal "salah" nya yang kemudian kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di hari perhitungan (yaumil hisab).
Banyak hal lagi yang dapat dirasionalkan sebetulnya. Termasuk mengapa zat Tuhan tidak bisa dijangkau ? Karena Tuhan itu bukan makhluk. Disitu rasionalnya.
Sebenarnya banyak hal membuktikan kerasionalan Islam itu yang justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak mengimani Al-Quran. Justru ummat ini lebih cenderung memikirkan urusan ukhrawi daripada duniawi. Padahal ummat ini, memerlukan buah pikirannya untuk mengurus bumi Allah ini. Ibarat rumah, semestinya dihuni dan dirawat oleh orang yang bertakwa. Karena orang yang bertakwa itu sifatnya memelihara dan terpelihara.
Maka kesimpulannya adalah Islam itu agama Rasional bila pemeluknya mau merasionalkannya dengan dasar kitabNya (Al-Quran) dan AsSunnah. Itu sandarannya. Rumusnya adalah bila ada yang merasionalkan Islam, tetapi hasilnya justru meragukan kebenaran Islam itu maka akalnya tidak rasional. Itu poinnya.
Dan sebagai PR hari-hari ini adalah "Islam itu Agama Rasional, tetapi kebanyakan ummatnya Irasional memahami dan mengamalkannya." Wallaahu a`lam bissowab.
"Iman itu buah dari berpikir. Kesalahan yang terjadi diimani dahulu baru dipikirkan. Maka akhirnya jadi ragu dan dungu."
Sedangkan Islam menawarkan akal sehat kepada manusia agar mau menggunakannya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau sampai disini, barangkali agama manapun nyaris pasti ada kesamaan di dalamnya.Tetapi Islam merasionalkan manusia dalam hal ghaib, yang sebahagian orang berpendapat bahwa hal-hal yang ghaib itu cukup diimani saja tanpa harus dipikirkan. Takut mengada-ngada dan cenderung sesat. Iman itu buah dari berpikir. Kesalahan yang terjadi diimani dahulu baru dipikirkan. Maka akhirnya jadi ragu dan dungu.
Padahal sesuatu yang tidak diketahui itu awalnya ghaib. Lalu dipelajari sesuatu yang dianggap ghaib maka tadinya ghaib menjadi tidak ghaib lagi. Apalagi kalau sudah masuk ranah akidah, memang para ulama bidang aqidah sudah membatasi apa-apa saja yang perlu dipikirkan dan dikaji dan apa saja yang gak boleh dipikirkan dan dikaji. Itu boleh-boleh saja. Bisa saja alasan itu diterima agar tidak ada kesimpulan "sok tahu".
Yang ingin penulis sampaikan pada hal ini adalah Islam itu agama rasional dari segi hikmah dan pelajaran-pelajaran di dalamnya. Banyak ayat yang menyinggung hal ini. "Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" "apakah kamu tidak memikirkannya" semisalnya.Jadi, selama ada keterangan di dalam kitabNya maka itu bisa dirasionalkan. Karena kitabNya itu dibaca oleh makhlukNya. Yang Tuhan sendiri tahu betul standard rasional makhluknya (dalam hal ini manusia).
Seperti misalnya kasus Nabi Ibrahim as. yang menghancurkan patung-patung disembah ummatnya. Sengaja beliau tidak menghancurkan satu patung yang besar dan diselipkan kapak ditangan sang patung. Yang tujuannya untuk menguji nalar ummatnya bahwa bagaimana bisa patung-patung itu hancur ditangan patung yang lain. Akhirnya nalar ummatnya jalan namun tetap saja ada yang menolak dalil itu sebagai bentuk menutupi (kafir) ketumpulan nalar mereka bahwa yang mereka sembah itu tidak memberi manfaat dan mudharat sedikitpun kecuali Allah SWT.
Selama ini manusia itu tidak mengetahui tentang alam semesta, lalu Tuhan terangkan di dalam kitabNya mengenai hal itu. Ada Bumi, langit, Siang, Malam, Lautan, Hujan, Tsunami dan sebagainya. Yang kemudian tercurahkan kepada berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Kasus lainnya soal kiamat, surga dan neraka. Ketiganya belum terjadi. Namun sifat-sifatnya sudah bisa dirasakan di duni ini. Soal kiamat itu adalah kepastian. Dan berhubungan manusianya dan masanya. Bila manusianya tidak ada lagi yang beriman, dalam suatu riwayat bahwa bila ada orang yang masih menyebut kalimat tauhid di dunia ini maka "tertundalah" kiamat (hari kehancuran alam) itu. Dan Allah sengaja merahasiakan kapan tanggal bulan dan tahunnya terjadi sebagai bentuk ujian BS (Benar Salah Amalnya). atau dengan kata lain, memberi peluang bagi setiap manusia untuk menambah amal shaleh atau amal "salah" nya yang kemudian kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di hari perhitungan (yaumil hisab).
"Islam itu agama Rasional bila pemeluknya mau merasionalkannya dengan dasar kitabNya (Al-Quran) dan AsSunnah. Itu sandarannya. Rumusnya adalah bila ada yang merasionalkan Islam, tetapi hasilnya justru meragukan kebenaran Islam itu maka akalnya tidak rasional. Itu poinnya."
Begitupula dengan surga dan neraka itu sudah ada secara sifatnya. Kalau mau lihat surga maka lihatlah calon ahlinya (penghuni). Begitupula dengan kalau mau lihat neraka maka lihatlah calon ahlinya. Yang mana kedua ahli tersebut secara terang dijelaskan di dalam kitabNya.
Banyak hal lagi yang dapat dirasionalkan sebetulnya. Termasuk mengapa zat Tuhan tidak bisa dijangkau ? Karena Tuhan itu bukan makhluk. Disitu rasionalnya.
Sebenarnya banyak hal membuktikan kerasionalan Islam itu yang justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak mengimani Al-Quran. Justru ummat ini lebih cenderung memikirkan urusan ukhrawi daripada duniawi. Padahal ummat ini, memerlukan buah pikirannya untuk mengurus bumi Allah ini. Ibarat rumah, semestinya dihuni dan dirawat oleh orang yang bertakwa. Karena orang yang bertakwa itu sifatnya memelihara dan terpelihara.
Maka kesimpulannya adalah Islam itu agama Rasional bila pemeluknya mau merasionalkannya dengan dasar kitabNya (Al-Quran) dan AsSunnah. Itu sandarannya. Rumusnya adalah bila ada yang merasionalkan Islam, tetapi hasilnya justru meragukan kebenaran Islam itu maka akalnya tidak rasional. Itu poinnya.
Dan sebagai PR hari-hari ini adalah "Islam itu Agama Rasional, tetapi kebanyakan ummatnya Irasional memahami dan mengamalkannya." Wallaahu a`lam bissowab.
Comments
Post a Comment